RESENSI BUKU TATA BAHASA BAKU BAHASA INDONESIA
HUBUNGAN SEMANTIS ANTARKLAUSA DALAM KALIMAT MAJEMUK BERTINGKAT
Buku “Tata Bahasa Baku
Bahasa Indonesia” ditulis oleh empat penulis yakni Hasan Alwi, Soenjono
Dadjowidjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton M. Moeliono. Buku ini sebagai edisi
ketiga yang diterbitkan oleh Balai Pustaka di Jakarta pada tahun 2003. Mulanya
buku ini dibuat untuk menyongsong Kongres Bahasa Indonesa V pada 28 Oktober-2
November 1988.Cetakan pertama dikeluarkan pada tahun 1988, lalu pada
cetakan-cetakan selanjutnya mengalami penyempurnaan dan perkembangan. Buku “Tata
Bahasa Baku Bahasa Indonesia” ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan
kepatuhan akan kaidah kebahasaan ketika kita menggunakan bahasa Indonesia, di
antaranya mengetahui hubungan semantis antarklausa dalam bentuk kalimat majemuk
bertingkat.
Pada bab kesepuluh dalam
buku ini dibahas hubungan semantis
antarklausa dalam kalimat majemuk
bertingkat. Dalam sub-bab ini dijelaskkan mengenai hubungan waktu, syarat, pengandaian,
tujuan, konsesif, pembandingan, penyebaban, hasil, cara, alat, komplementasi,
atributif, dan hubungan perbandingan.
Hubungan waktu menyatakan
waktu terjadinya keadaan dalam klausa utama. Hubungan waktu dapat dibedakan
menjadi waktu batas permulaan, waktu bersamaan, waktu berurutan, dan waktu
batas akhir terjadinya peristiwa.
|
No.
|
Klasifikasi
|
Subordinator
|
|
1.
|
Waktu
batas permulaan
|
Sedari,
sejak
|
|
2.
|
Waktu
bersamaan
|
Ketika,
seraya, seraya, sambil, sementara, selagi, selama, serta, tatkala
|
|
3.
|
Waktu
berurutan
|
Sebelum,
setelah, sesudah, seusai, begitu, sehabis
|
|
4.
|
Waktu
batas akhir
|
Sampai,
hingga
|
Hubungan syarat
menyatakan syarat terlaksananya apa yang disebu dalam klausa utama.
Subordinator yang lazim digunakan adalah jika(lau), jika, dan asal(kan),
sedangkan subordinator kalau, (apa)bila, dan bilamana dipakai bila syarat
bertalian dengan waktu.
Hubungan pengandaian
menyatakan andaian terlaksananya apa yang dinyatakan dalam klausa utama, Subordinator
yang lazim digunakan adalah seandainya, andaikata, andaikan, dan sekiranya.
Hubungan konsesif mengandung
pernyataan yang tidak akan mengubah apa yang dinyatakan dalam klausa utama.
Subordinator yang lazim digunakan adalah walau (pun), kendati(pun), biarpun,
sekalipun, dan sesungguh(pun). Dan untuk subordinator walaupun/ meskipun tidak
diikuti kata oleh.
Hubungan pembandingan
menyatakan kemiripan/ pembandingan antara yang dinyatakan pada klausa utama
dengan yang dinyatakan pada klausa subordinatif. Subordinator yang lazim
digunakan adalah alih-alih, sebagaimana, daripada, laksana, ibarat.
Hubungan penyebaban
menyatakan sebab/ alasamterjadinya yang dinyatakan dalam klausa utama. Subordinator yang lazim digunakan
adalah sebab, karena, oleh karena, dan akibat. Sedangkan hubungan tujuan
menyatakan suatu tujuan/ harapan dari apa yang disebut dalam klausa utama.
Subordinator yang lazim digunakan adalah agar, supaya, biar, dam untuk.
Hubungan hasil menyatakan
cara pelaksanakan apa yang dinyatakan pada kluasa utama. Subordinator yang
lazim digunakan adalah dengan dan tanpa. Sedangkan hubungan alat menyatakan
alat yang dinyatakan pada klausa utama. Subordinator yang lazim digunakan
adalah dengan dan tanpa.
Dalam hubungan komplementasi,
klausa subordinatif melengkapi apa yang dinyatakan oleh verba kluasa utama baik
dinyatakan/ tidak. Subordinator yang lazim digunakan adalah bahwa.
Terdapat dua macam hubungan
atributif yakni restriktif dan takrestriktif. Klausa yang dihasilkan disebut klausa
relatif. Sedangkan pada hubungan perbandingan dibedakan menjadi hubungan
ekuatif (unsur yang tarafnya sama) dan komparatif (berbeda).
Banyak keunggulan yang
ditonjolkan dalam buku ini, di antaranya memuat pengetahuan mengenai penulisan
bahasa Indonesia yang baik dan benar secara lengkap dan mendasar, utamanya
mengenai hubungan sintaktis antarklausa dalam kalimat majemuk bertingkat. Selain
itu, contoh-contoh yang diberikan juga mampu membuat pemahaman bagi pembaca. Penjelasan
yang ditulis efektif, urut dan logis.
Beberapa kekurangan yang
ditemukan dari buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia ini antara lain menggunakan
istilah-istilah yang cukup tinggi pada penjelasannya. Hal itu mengharuskan
pembaca untuk membacanya berulang kali agar mampu memahami isi secara sempurna.
Dengan mengesampingkan
beberapa kekurangan yang ada dalam sub-bab buku ini, keseluruhan buku ini
sangat bermanfaat untuk menjadi pedoman dalam penulisan bahasa Indonesia yang
baik dan benar. Buku ini sangat direkomendasikan bagi para pelajar untuk
memperdalam ilmu bahasa. Selebihnya buku ini dapat menjadi pegangan bagi kita
dalam belajar untuk mengembangkan sastra Indonesia.
Sumber dari juarapribadiallah.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar