SINOPSIS CERPEN KARYA Habiburrahman
El Shirazy
Habiburrahman El Shirazy
Namanya Amru.
Anak lelaki berumur 12 tahun itu terlahir dari rahim seorang wanita Palestina
yang shaleh dan perkasa. Anak lelaki itu telah yatim piatu sejak berumur lima
tahun. Ayahnya mati syahid, ditembak serdadu Israel usai shalat Jumat di
Masjidil Aqsha saat ia masih berada di dalam kandungan. Sedangkan ibunya
menyusul syahid saat ia berumur lima tahun.
Kini Amru tinggal
bersama kakeknya yang berumur tujuh puluh tahun. Mereka berdua tinggal di
sebuah gubug darurat di pinggir kota Khan Yunis. Rumah mereka di Nablus telah
hancur dibombardir Israel. Bahkan di atas puing-puing rumahnya itu, kini telah
berdiri villa mewah milik bisnisman Yahudi dari Ceko bersama beberapa Yahudi
lainnya dari Eropa Timur. Satu persatu orang Palestina menemui ajalnya diburu
peluru-peluru buta Israel. Sedangkan, ribuan penduduk baru Yahudi didatangkan
dengan diberi seribu perlindungan, seribu fasilitas mewah yang dibangun di atas
mayat-mayat dan genangan darah anak Palestina.
Tiap pagi, Yahudi Israel
makan roti bakar yang diolesi keju bergizi tinggi yang disarikan dari darah dan
nanah rakyat Palestina. Mereka makan gandum yang ditanam di atas bumi Palestina
yang disirami dengan keringat, peluh dan darah rakyat Palestina.
Pagi itu sehabis shalat Subuh dan mengaji Al-Qur’an
bersama kakeknya, Amru bergegas keluar dari gubug reot itu. Ia langsung
menyambar ember. Ya, seperti biasanya ia harus mengambil air untuk keperluan
hidup dari pipa-pipa pengairan di ladang-ladang anggur Israel. Ia harus
berjalan dengan bergerilya penuh waspada, jangan sampai kepergok tentara Israel
durjana.
Sejak kekalahan Arab
pada perang tahun 1967 nyaris segala sesuatu yang ada di atas bumi Palestina
masuk dalam genggaman Israel, tak terkecuali air. Begitu mahal harga setetes
air bagi Israel sehingga seluruh jalur pengairan mereka jaga sedemikian
ketatnya. Namun, begitu murah darah rakyat Palestina bagi Israel sehingga
dengan seenaknya mereka mengalirkannya setiap hari tanpa henti.
“Kek, Amru pamit dulu
ngambil air ya,” Amru mencium kakeknya yang berdiri di pintu gubug.
“Fi ri’yatillah, cucuku. Pasanglah seluruh inderamu. Janganlah
lengah. Jika kepergok Israel cepat-cepat selamatkan diri. Jangan kautumpahkan
darahmu sia-sia pagi ini. Sebab, di bumi Palestina ini kau bisa
memilih cara paling mulia untuk menumpahkan darah syahidmu, cucuku. Rasakan dengan sepenuh hati bahwa
Allah bersama langkahmu.” Dengan suara penuh wibawa sang kakek menasihati
cucunya sambil mengusap-usap kepalanya dengan penuh kasih saying dan cinta.
Sejurus kemudian, Amru
melesat bak anak panah sambil menenteng ember. Sang kakek memandangi cucunya
itu dengan meneteskan air mata.“Ya Allah … limpahkanlah satu telaga kesabaran
yang tiada habis sumbernya pada anak-anak Palestina. Untuk sekedar mengambil
air minum saja ya Allah, yang keluar dari bumimu mereka harus mempertaruhkan
nyawa. Ya Allah… lindungilah Amru, cucuku yang yatim piatu. Kalau Kau pilih dia
untuk syahid di jalan-Mu, pilihkanlah jalan yang paling mulia dan paling Kau
ridhai. Amin.” Sang kakek berdoa khusyuk saat Amru ditelan kabut pagi.
Amru berlari kecil. Hatinya riang. Ya,
hatinya selalu riang sehabis tadarusan Al-Quran di Subuh hari bersama kakeknya.
Hanya Al-Quranlah lagu dan musik jiwanya. Kepapaan dan kesengsaraannya semakin
menjadikan ia tidak bisa berpisah dengan Al-Quran, pelipur laranya
satu-satunya. Al-Quran memberikannya harapan-harapan masa depan yang cemerlang,
menciptakan nuansa keindahan dalam hatinya. Hatinya semakin riang, ia masih
terpaut dengan surat Al Insan ayat 11 dan 12 yang tadi ia baca dengan
meneteskan air mata.
“Maka Tuhan memelihara
mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)
dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi Balasan kepada mereka karena kesabaran
mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera”
Tiba-tiba, ia merasa
rindu ingin bertemu dengan Tuhannya. Ia merasa rindu ingin bertemu ayah dan
ibundanya di surga. Kerinduan yang tiada tara menjadikan hatinya begitu haru
dan matanya berkaca-kaca. Amru pun menghentikan langkahnya. Ia lalu duduk
bersila menghadap kiblat di bawah pohon kurma. Dipejamkan kedua matanya dan ia
tengadahkan tangannya ke langit, lalu dengan khusyuk bibirnya bergetar,
“Ya Allah Tuhan yang memberkati bumi Palestina dan
sekitarnya, dengan asma-Mu yang paling agung aku berdoa. Ya Allah, aku rindu
ingin bertemu dengan-Mu, aku rindu pada ayah ibundaku yang syahid di jalan-Mu.
Ya Allah, aku memohon dengan segala keridhaan yang Engkau letakkan pada kitab
Al-Quran untuk hamba-hamba-Mu yang membacanya, angkatlah diriku menemui ayah
ibuku dengan belas kasih-Mu sebelum matahari berada di ubun-ubun kepalaku.
Amin.”
Pohon kurma, kabut pagi,
mentari yang mengintip di ufuk timur, pohon-pohon Zaitun, batu-batu, debu, puing-puing
pecahan mesiu, langit, dan bumi serta para malaikat mulia ikut mengamini doa
Amru pagi itu. Amru bangkit sambil menghapus tetesan airmatanya. Ia lanjutkan
perjalanan. Kali ini ia tidak lagi lewat jalan biasa, ia akan merunduk,
menyusuri sebuah parit menuju ladang anggur Israel.
Duh! Tentara Israel! Ya,
ia menangkap bayangan dua tentara Israel berjalan mengitari perkebunan anggur
itu. Terpaksa ia memutar haluan. Amru merangkak, lima meter di hadapannya
adalah terowongan irigasi kecil sepanjang seratus meter yang berakhir di tengah
ladang gandum.
Kedua tentara Israel itu
berjalan santai sambil terkekeh-kekeh. Senjata mereka lengkap. Keduanya
memegang roti berkeju. Agaknya mereka sedang sarapan pagi. Langkah keduanya
semakin jelas, semakin mendekati parit persembunyian Amru. Amru terus merangkak
pelan menuju terowongan.
“Ah aman, Alhamdulillah,” gumam Amru lega
begitu ia masuk terowongan. Sementara kedua tentara Israel itu melenggang
dengan langkah congkaknya, melintas tepat di atas kepala Amru. Amru terpaku di
dalam terowongan, keningnya berkerut, pikirannya berputar merancang strategi supaya
para tentara Israel berpindah dari jalan pintas yang biasa ia lalui.
“Yah, ketemu! Aku
telusuri terowongan ini sampai ke tengah ladang lalu aku bakar saja ladang ini.
Lalu aku masuk lagi ke terowongan dan menuju kemari. Dua tentara itu dan
tentara lainnya pasti akan segera lari ke tengah ladang begitu melihat asap
berkepul. Saat mereka ke tengah ladang aku akan lari ke kran air dan mengambil
air dari sana. Bismillah!”
Tanpa membuang waktu,
mujahid kecil itu merangsek ke dalam terowongan pengap itu. Embernya ia tinggal
di bibir terowongan. Ia terus merangsek maju. Semakin lama semakin gelap. Akhirnya,
ia berada di tempat yang gelap gulita. Nafasnya tersengal-sengal, terbatuk-batuk.
Udara di dalam terowongan itu begitu pengap. Tiba-tiba ia mendengar suara
berdesis.
Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un. Jangan-jangan itu ular. “Ya
Allah, haruskah aku syahid dipatuk ular? Ya Allah, dengan seluruh asma-Mu aku mohon syahidkanlah aku
dengan seratus peluru.”
Doa Amru di dalam hati dengan khusyuk. Lalu, ia membaca doa yang diajarkan
kakeknya tiga kali,
“Bismillahi
Ladzi Laa Yadhurru Ma’asmihi Syaiun Fil Ardhi Wa Laa Fis Sam’ii Wahuwas Samiul
‘Alim.”
Suara desis ular itu hilang.
Dengan mantap ia merangkak menelusuri terowongan sempit itu dan ia tidak
menemui halangan apapun. Samar-samar ia kembali melihat seberkas cahaya.
Semakin cepat ia merangkak maju. Dan akhirnya kepala mujahid kecil itu
perlahan-lahan keluar dari sebuah lubang di tengah kebun anggur itu.
“Alhamdulillah, lakal hamdu ya Rabbi!” Amru memuji Tuhannya.
Segera ia keluar dengan
mengendap-endap mengitarkan pandangan ke seluruh penjuru kebun. Tak ada tentara
di tengah kebun. Para pekerja belum berdatangan karena hari masih terlalu pagi.
“Aman!” Dengan cepat Amru mengumpulkan ranting-ranting dan dedaunan anggur yang
kering, ia letakkan tepat di bawah pohon anggur yang siap dipanen. Lalu, ia
mengeluarkan korek api yang terbawa di sakunya.
“Bismillah, wahai api, jika pada tubuh nabi Ibrahim kau sejuk
tidak membakar. Maka pada ladang Israel durjana ini tebarlah panasmu, bakarlah
semua isinya tanpa sisa, murkalah sebagaimana Allah murka karena darah
anak-anak Palestina dialirkan Israel tanpa iba,” doa Amru saat menyulutkan api
pada daun-daun kering. Begitu ia melihat api itu mulai menjadi besar,
cepat-cepat ia masuk kembali ke dalam terowongan. Ia harus segera sampai di
ujung luar lalu berlari secepatnya menuju kran dan mengambil air.
Sementara itu api terus
berkobar perlahan-lahan, membakar pohon-pohon anggur itu. Kandungan alkohol
yang ada dalam pohon dan buah anggur itu semakin membuat kobaran api itu
merajalela. Dan “wuzz!” Api menjalar
dengan begitu murka. Tentara-tentara Israel kalang kabut memadamkan api.
“Cepat padamkan api itu,
jika tidak kebun anggur seluas 200 hektar ini akan menjadi abu.” Teriak sang
komandan kepada anak buahnya.
“Kalian semua tolol. Ini
pasti ulah orang HAMAS !!!” Sang komandan terus menceracau.
Tetapi naas, gerakan
tentara Israel kalah sigap dengan gerakan api. Api terus menjalar, membakar
sejadi-jadinya. Sesekali terdengar ledakan kecil dari pohon-pohon anggur yang
pecah menyemburkan api. Begitu sampai di ujung terowongan, Amru keluar dengan
hati-hati, mengarahkan pandangan ke tengah kebun. Asap pun membumbung tinggi.
“Berhasil, Allahu Akbar!” Teriak Amru tertahan
di dada. Segera ia lari sekencang-kencangnya menyusuri parit menuju kran air.
Lima belas menit kemudian ia sudah ada di kran jauh di pinggir kebun itu.
Langsung ia kucurkan air, basahi muka, rambut, dan minum sepuas-puasnya.
Setelah itu, ia penuhi embernya dengan air. Ketika ia hendak mengangkat
embernya, sekonyong-konyong dari arah kebun ia melihat tiga tentara Israel
berlari ke arahnya. Dengan cepat, Amru mengambil langkah seribu, bagai terbang,
ember satu-satunya kekayaannya itu, ia tinggal begitu saja.
“Hei, tikus kecil
berhenti! Kuberondong kau!!” Teriak tentara Israel. Amru terus berlari dengan
cepat. Dan “Dor…dor…dor…dor….!” Puluhan peluru berdesingan di kanan kiri Amru.
“Ayo cepat kita buru
setan kecil ini! Jangan-jangan dia yang membakar kebun! Ayo cepat!!”
Dor…dor…dor….!!! Senjata
otomatis dari salah satu tentara Israel itu menyalak, memuntahkan puluhan
peluru, tepat saat kaki Amru tersandung batu. Amru terjerembab jatuh. Batu itu
telah menyelamatkan nyawa Amru dari tajamnya peluru Israel. Amru kembali
berlari. Ia masuk ke kebun korma yang ditumbuhi belukar tak terurus.
“Kurang ajar, setan itu
masuk belukar.” Kata Yahudi berkumis tebal.
“Sudahlah biarkan aja.
Aku malas masuk belukar untuk mengejar setan kecil itu. Jangan-jangan itu
jebakan orang HAMAS. Kita bertiga malah mati konyol nanti. Kita kembali saja ke
ladang.” Ucap tentara kedua.
Akhirnya ketiga tentara
Israel pengecut itu tidak berani memburu Amru. Mereka kembali ke ladang yang
terbakar itu.
* * *
Setengah jam kemudian, Amru
telah sampai di depan gubugnya. Kakeknya masih tadarusan Al-Quran. Wajah Amru
begitu pucat. Tenaganya benar-benar habis.. Sudah dua hari perutnya tak terisi
pengganjal apapun. Air yang baru saja ia minum pun telah keluar dan tumpah
lewat keringatnya. Nafasnya terengah-engah. Ia lalu duduk menggeloyot di
samping pintu.
Mendengar nafas Amru,
sang kakek keluar dan mengelus-elus kepala cucunya. Ia langsung paham bahwa
cucunya pasti baru dikejar-kejar tentara Israel. “Cucuku, wajahmu pucat sekali.
Istirahatlah dulu ya cucuku. Biar kakek coba keluar cari makanan seadanya.”
Kata kakek sambil mencium kening cucu kesayangannya itu.
“Jangan kek, biar Amru
yang keluar. Kakek sudah tua. Kakek istirahat, membaca Al-Quran dan berdoa
untuk Amru di rumah. Apalagi kaki kakekkan sudah lumpuh satu. Bagaimana kakek
bisa berjalan jauh? Biar Amru saja kek, sekalian Amru ingin ke madrasah. Amru
kangen sama teman-teman dan para asatidz!” Jawab Amru.
Mendengar jawaban
cucunya itu, sang kakek hanya meneteskan air mata. Amru pun pamit pada
kakeknya. Sebelum melangkah meninggalkan gubug, ia mengambil senjata
andalannya, “ketapel!” Ia yakin bahwa nanti ia akan menggunakan ketapel itu untuk
menyerang tentara Israel pengecut. Ia paling suka melihat wajah-wajah pucat dan
takutnya tentara Israel. Apalagi jika batu yang terlempar itu mendarat di
hidung tentara Israel hingga berdarah. Ia akan tertawa bahagia sekali. Lalu
akan ia ciumi ketapel saktinya itu dengan bangga.
Di antara teman-teman
seperjuangannya, ia yang paling jitu memakai ketapel. Ia dijuluki
teman-temannya “Saad bin Abu Waqqash Kecil” karena tembakannya yang selalu
mengenai sasaran. Amru pergi ke madrasah, rindu bertemu mujahid-mujahid kecil
pemberani. Sebetulnya, rasa penat habis dikejar tentara Israel belum hilang,
bahkan sakit di kakinya saat tersandung batu tadi belum sirna. Tapi ia harus
bergerak, tentara Allah tidak boleh terkalahkan oleh penderitaan jasad. Tak ada
istilah istirahat! Terus bergerak, bergerilya, menyusun strategi, menukik
bersama maneuver-manuver dahsyat!
* * *
Begitu menginjakkan kaki
di halaman madrasahnya, Amru langsung diserbu teman-teman seperjuangannya.
“Ahlan wa
Sahlan, selamat datang Amru, kami semua rindu padamu,” sambut Ahmad,
ketua kelas.
“Masya
Allah hangatnya berjumpa kalian, aku juga rindu pada kalian.
Ngomong-ngomong kalian kok di luar kelas, ini kan sudah jam sembilan. Siapa
yang mengajar hari ini ?” Tanya Amru.
“Sekarang
jamnya Ustadzah Faizah Abdurrahim, beliau sebentar lagi datang. Sebetulnya tadi
kami semua ada di kelas, tapi begitu kau memasuki halaman kami tidak sabar
untuk memelukmu.” Jawab Ragab, sang insinyur pembuat bom Molotov dalam pasukan
mujahid kecil itu.
“Yuk
kita masuk kelas lagi. Kita akan mengatur strategi kucing-kucingan dengan
tentara Israel lagi. Setuju?!” Ajak Amru.
“Setuju!” Teriak anak-anak Palestina itu kompak.
Begitu sampai di kelas, Amru yang mereka anggap sebagai panglima perang membuka
pembicaraan.
“Bismillah, sebelum kita merancang strategi baru, aku ingin
mendengar hasil manuver kalian selama tiga hari ini. Apa yang telah kalian
lakukan untuk membela agama Allah ini. Silahkan mulai dari Ahmad!” Kata Amru
tegas.
“Hari Rabu lalu saya
ikut menyerang penjagaan blockade Israel di sisi barat Khan Yunis. Tiga
lemparan batu saya mengenai leher Israel!” Jawab Ahmad bersemangat.
“Aku telah merakit lima
Molotov, ada di tasku sekarang ini.” sambung si Ragab.
“Bagus, namun kita harus
terus meningkatkan kemampuan kita. Kemampuan pikiran dan senjata! Kalau kamu
Umar, apa yang kamu lakukan?” sambung Amru.
“Lihat tangan kananku,
aku tertembak tiga hari yang lalu.”
Jawab Umar dengan nada sedih.
“Tak apa-apa, darah yang
kau teteskan dari tanganmu adalah pengobar semangat kita bersama.” jawab Amru
dengan bijak menumbuhkan semangat juang teman-temannya.
“Lha kau sendiri Amru,
apa yang telah kamu lakukan?” Tanya Ahmad, sang ketua kelas.
“Banyak, tapi yang
paling prestius adalah pagi ini, sebelum berangkat ke sini aku telah membakar
ladang anggur Israel di sebelah Timur Khan Yunis. Saat ini tentara-tentara
Israel keparat itu mungkin masih sibuk memadamkan api yang mengancam dua ratus
hektar kebun anggur itu.” Jawab Amru dengan penuh percaya diri.
“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Teman-temannya
menyambut dengan takbir.
“Assalamu’alaikum!” Tiba-tiba terdengar suara
lembut seorang wanita.
Rupanya Ustadzah Faizah
Abdurrahim yang datang. “Wa’alaikumsalam
warahmatullah!” jawab anak-anak Palestina itu serempak.
“Ada berita apa
anak-anakku tercinta? Takbir kalian begitu keras membahana.” Tanya Ustadzah.
“Ini Ustadzah, Amru
berhasil membakar kebun anggur Israel tadi pagi, semoga saja kebun Israel itu
musnah dimakan api!” Jawab Ahmad.
“Subhanallah! Kalau begitu kita harus cepat-cepat bubar. Tadi di
jalan, Israel begitu ketat melakukan sweeping.
Sebentar lagi mereka pasti kesini. Ayo anak-anak kita bubar. Israel pasti marah
dan mengamuk membabi buta!”
Begitu Ustadzah Faizah
hendak berdiri, tiba-tiba…. “Brakkk!!! Dor…dor…dor…!!!” Puluhan tentara Israel
memasuki kelas.
“Ambil dan seret anjing
betina itu! Dia anggota HAMAS!” Sang komandan memerintahkan anak buahnya untuk
menangkap Ustadzah Faizah.
Suasana di kelas tegang.
Ustadzah Faizah tak bergeming dari tempatnya. Sementara dada Amru menyimpan
bara kemarahan. Ia teringat ibunya yang tujuh tahun lalu meninggal saat
mengajar.
Tujuh tahun yang lalu.
Saat itulah ibunya sedang mengajar pukul sembilan pagi, ibunya sedang
mengajarkan mata pelajaran Tauhid. Tiba-tiba terdengar suara pesawat tempur
Israel menderu-deru dilangit dan terdengar ledakan mesiu menggelegar di
sana-sini. Ibunya keluar diikuti murid-muridnya. Begitu melangkahkan kaki di
pintu, gedung dan halaman madrasah itu dilumat oleh dentuman maha dahsyat.
Lima belas guru dan ratusan
muridnya mati syahid pada pagi hari yang kelabu itu. Tak ada liputan terperinci
dari pers dunia. Hanya sejarah yang menulisnya sambil meneteskan darah. Khan
Yunis kota kecil di Palestina itu menggelepar, menahan perih tak terkira.
“Pasukan ayo cepat seret
wanita itu, jangan bengong saja!” Gelegar suara komandan Israel itu menyadarkan
Amru. Darah anak Palestina itu mendidih. Perlahan-lahan ia siapkan ketapelnya.
Dua batu telah ia pasang.
Dua tentara Israel
merangsek. Begitu tangan mereka hendak menyentuh ustadzah, tiba-tiba, “Plak!
Plak!” Dua batu menghantam keras mengenai sasarannya. Tembakan Amru tak pernah
meleset dan…. Bummm! Dua bom Molotov meledak. Tentara Israel terkapar dan sang komandan
menahan perih tubuhnya.
“Brengsek. Kalian tikus
kecil brengsek! Rasakan ini!!”
Ded..ded...ded…!!!
Ratusan peluru muntah dari senjata otomatis komandan Israel. Peluru-peluru itu
membabi buta ke seluruh ruangan kelas, menerpa Ahmad, Ragab, Umar, Isa, Mahmud dan
tewas seketika, syahid menyusul teman-temannya. Ustadzah Faizah tak luput dari
terjangan peluru buta itu. Kelas itu pun banjir darah. Kembali kota Khan Yunis
menggelojot mengerang perih.
Ternyata Amru masih
hidup, tepat saat sang komandan menarik picu senjatanya, ia berhasil melompat
dan langsung tiarap.
“Kurang ajar Yahudi
Israel laknatullah ini. Nah
rasakan!” Dan… Plak! plak! Dua tembakan batu Amru merobek wajah komandan
Israel.
“Aaa…duh…bu..bunuh bangsat
satu ini. Cepat!!!” teriak komandan.
Tak ayal lagi
tentara-tentara Israel itupun mengarahkan ratusan peluru ke tubuh Amru. Dan….
“Laa ilaaha illallaaah!” Amru
menghembuskan nafas terakhirnya bersamaan dengan sempurnanya kalimat tauhid
yang terucap dari mulut mungilnya. Panglima para pejuang kecil berani mati itu
pun gugur, syahid menemui Tuhannya, menemui ayah dan ibundanya yang
dirindukannya. Ia gugur dengan seratus peluru bersarang di tubuhnya.
Komentar
Posting Komentar