Khusus untuk adek-adek kelas 9 yang sekarang lagi bingung teks drama monolog buat ujian praktek, tenang... Di sini kakak udah punya satu narasi yang pernah kakak pakai buat uprak beberapa tahun lalu. Semoga bermanfaat. Jika adek senang, jangan lupa tinggalkan komentar ya!

Kisah Teman Tidurku, Katak

Tersebutlah dahulu kala di negeri seribu gingseng, Korea, hiduplah seorang petani yang miskin. Ia tinggal di sebuah dusun yang terletak di lereng sebuah gunung. Dikesehariannya, petani tersebut ditemani oleh putrinya, sebab sang pujaan hati telah lama meninggal. Putri tersebut dinamainya Bok-Sury. Bok-Sury pun tumbuh menjadi seorang gadis yang rajin dan pemberani. Ia juga sangat menyayangi ayahnya.
Suatu hari, ketika Bok-Sury memasak di dapur, seekor katak melompat-lompat masuk. Katak itu duduk di dekat kakinya. Tiba-tiba, si katak berkata, “Bok-Sury berikanlah aku sedikit nasi. Perutku lapar sekali.” Bok-Sury terkejut mendengar katak itu dapat berbicara. Namun, karena Bok-Sury adalah seorang gadis yang pemberani, maka diberikannya sedikit nasi pada katak itu.
“Hai, katak yang malang! Makanlah.”
“Terima kasih. Terima kasih. Ini santapan pertamaku setelah seminggu aku kelaparan di sawah. Terima kasih Bok-Sury!”
 Dengan lahapnya katak itu memakan nasi pemberian Bok-Sury. Katak itu kembali berkata, “Terima kasih Bok-Sury! Aku sudah sangat kenyang. Bok-Sury, mulai hari ini, biarkanlah aku tinggal di pojok dapurmu. Aku tak mempunyai keluarga, dan lagi pula aku sangat senang tinggal di dekatmu. Boleh ya!” Bok-Sury mengangguk. Baginya, dengan kehadiran katak, itu tak akan mengganggu kesehariannya.
Hari demi hari, Bok-Sury hidup bersama si katak. Ia tidak merasa kesepian alih alih merasa sedih akan beban hidup yang ditanggungnya, katak itu dapat ia jadikan teman bicara, teman berbagi cerita. Setiap hari bila Bok-Sury memasak, disisakannya sedikit makanan untuk si katak. Tak ada seorang pun tahu tentang keberadaan katak yang menjadi teman bermainnya. Ayahnya pun tak tahu. Bok Sury dengan penuh kehangatan menjaga dan membesarkan si katak.
Karena tak bergerak-gerak, maka katak itu pun tumbuh menjadi seekor katak yang sangat besar. Suatu hari, ditengoklah katak tersebut dan…
“Oww… ka..ka..ka..mu katak yang sangat besar sekali. Dan..dan..dan.. di mana katak kecilku? Katak yang setiap saat bersembunyi di sini! Di mana? Katak? Katak? Ka.. kamu memakan seekor ka...”
“Tidak, Sury. Kamu salah. Aku katak yang sejak dahulu rawat. Aku adalah katak yang setiap hari menemanimu. Berkat kasihmu, aku pun tumbuh menjadi seekor katak besar.”
“Katakku? Kamu katakku? Merunduklah. Aku coba ingin menyentuhmu.”
Bok-Sury sangat terkejut ketika mengetahui katak kecil yang setiap hari ada di dapurnya pun tumbuh besar. Bila orang melihat pasti akan disangkanya katak itu seekor anjing.
Suatu ketika, ayah Bok-Sury jatuh sakit. Badannya kurus, mukanya pucat. Bok-Sury berusaha keras untuk menyembuhkan ayahnya. Ia merawat ayahnya. Ia memberinya jejamuan. Ia mendoakannya. Dan suatu hari, ketika Bok-Sury punya sedikit uang, akhirnya ia bawakan ayahnya seorang tabib yang tinggal jauh sekali dari dusun mereka. Bok-Sury pun pergi menjemput sang tabib ke rumahnya.
Setelah diperiksa, tabib itu berkata, “Bok-Sury, ayahmu sakit keras. Aku tak kuasa menyembuhkannya. Namun, ada sebuah obat yang dapat menyembuhkan ayahmu itu adalah ginseng. Tapi obat itu mahal sekali.”
Bok Sury merasa sedih. Ia tak punya uang. Ia tak dapat meninggalkan sang ayah untuk bekerja.
Sementara itu, di sebuah dusun di lereng gunung yang sama, rakyat sedang gelisah. Di sana terdapat istana tua yang dihuni seorang raksasa.
“Penduduk!!! Aku perlu makan! Beri aku salah satu dari kalian. Aku lapar, aku lapar! Besok! Di sana! Datanglah untuk jadi makananku.”
Setiap tahun rakyat harus mengorbankan seorang manusia. Orang yang dijadikan mangsa itu diletakkan di atas sebuah altar di dalam istana. Konon cerita, setiap setahun sekali, rakyat di dusun itu harus menyediakan manusia untuk dijadikan tumbal dan sekarang rakyat sedang kebingungan. Mereka sudah tak punya lagi korban buat si mahluk raksasa. Akhirnya, rakyat mengumpulkan uang. Uang yang banyak itu akan diberikan kepada siapa saja yang mau menjadi korban.
“Hei, bagaimana ini! Raksasa jelek itu menunggu manusia! Kamu saja ya!”
“Tidak, tidak! Enak saja kamu. Kenapa nggak kamu saja?
“Kok nyuruh saya. Sudah begini aja. Kita kumpulin uang buat si korban yang bersedia dimakan raksasa! Gimana? Gimana?”
“Ngarang kamu! Siapa yang mau? Ha?”
“Permisi, ada apa Bapak? Ada sayembara? Hadiah uang? Saya ikut!”
“Benar mau kamu, dek? Kamu mau jadi korbannya? Kamu haruss dimakan raksasa. Mau kamu?”
Bok-Sury menimbang kembali sayembara itu dan akhirnya ia menerimanya.
“Iya, Pak! Saya mau! Beri saya uang secepatnya.”
“Baiklah dek! Ini uang yang kamu inginkan. Tabahkanlah hatimu. Mengapa kamu bahagia ketika kamu ingin dimakan raksasa?”
Bok-Sury hanya tersenyum dan membawa uang itu pulang. Ia tak lupa membeli gingseng. Betapa senangnya, ketika didapati ayah tercinta berangsur sembuh. Namun, kegembiraan itu harus ia bayar dengan nyawanya. Hari yang ditentukan tiba. Bok-Sury pun pergi menemui ayahnya.
“Ayah, ayah benar-benar sembuh! Doakan putri ayah bisa kembali bekerja pagi ini.”
“Kenapa kamu menangis? Kamu sakit? Kamu sedih nak?”
“Tidak ayah. Aku senang. Aku akan membayar hutang.”
“Kau berhutang, Nak? Untuk obat ayah ini? Anak yang baik kamu nak. Bekerjalah, nak! Ayah menunggu kepulanganmu.”
Ketika Bok-Sury akan berangkat, ia pun teringat pada kataknya. Kemudian, ia pergi ke dapur dan menemui kataknya.
“Wahai sahabatku yang setia, mengapa kau menangis?”
“Apa benar kau akan pergi? Haruskah kau pergi hari ini?”
“Benar. Hari ini adalah hari terakhir kita bercakap-cakap. Jangan sedih. Jaga dirimu.”
“Aku akan benar-benar kesepian. Besoknya mungkin aku akan kelaparan. Lusa aku akan mati karena dua hal itu.”
“Hiduplah katak. Temani ayahku.”
“Aku akan meminta pada Tuhan supaya aku punya jalan untuk membalas kebaikanmu.”
Bok-Sury sampai di dusun tempat dimana raksasa itu berada. Kemudian ia diletakkan di atas altar persembahan. Sunyi. Remang. Bok-Sury memperhatikan keadaan sekeliling.
“Hai, gadis cantik! Kau sungguh ingin jadi santapanku. Aku belum pernah memakan gadis cantik sepertimu. Sebelum kau jadi santapanku, nyanyikan aku sebuah lagu. Tidak! tidak! Bacakan aku sebuah puisi untuk kematianmu! Hahahaha…”
Tiba-tiba Bok Sury melihat katak peliharaannya itu duduk di sudut ruangan. Si katak memandangnya dengan bola mata yang bersinar. Sang katak membuka mulutnya. Keluarlah segulung asap berwarna kuning, naik ke atas. Dengan sekejap katak itu memakan sang raksasa. Asap berkebul di ruangan itu. Gelap.
Bising. Suasana memekakan telinga. Berbondong-bondong rakyat desa mendatangi istana dan didapati Bok-Sury pingsan di dekat bangkai seekor katak raksasa. Bok-Sury selamat dan dapat kembali ke ayahnya. Gadis itu kemudian membawa pulang bangkai katak raksasa dan menguburkannya dengan khidmat.
“Sayang, kau pulang sangat malam. Selesaikah pekerjaanmu? Bagaimana dengan hutangnya? Ayah juga harus melunasinya.”
“Tidak, ayah. Seorang teman yang baik hati telah membayarkan hutang Bok-Sury melebihi yang seharusnya.”
“Siapa dia anakku?”
“Teman tidurku di dapur ayah. Seekor katak, ayah. Yang membalas dengan nyawa.
Akhir kisah, Bok-Sury hidup bahagia bersama ayahnya.

(SELESAI)


Sumber dari juarapribadiallah.blogspot.com

Komentar