Haruskah Pemuda Membaca Air Mata Indonesia pada Era Bonus Demografi?

Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua. Yang terhormat Dewan Juri Lomba Pidato Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Jawa Tengah 2018. Yang saya hormati, apresiator dan pemirsa Lomba Pidato Kependudukan 2018. Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, pada hari ini kita dapat berkumpul dalam acara Lomba Pidato Kependudukan 2018. Izinkanlah saya perwakilan dari SMA Negeri 1 Purworejo yang tergabung dalam PIK REMAJA GANESHA untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan mengangkat tema “Peran Remaja dalam Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia menuju Era Bonus Demografi.”
Hadirin sekalian, tahun 2009 lalu telah diadakan lomba Global Enterprise Challange (GEC) di Skotlandia. Lomba itu diikuti oleh 5000 siswa dari 200 sekolah di berbagai belahan dunia. Saat itu, enam remaja Indonesia dikirim untuk bertanding agar dapat memecahkan salah satu fakta bahwa “setiap hari, satu milyar orang di dunia akan kelaparan.” Seluruh remaja saat itu dituntut untuk dapat merancang suatu model inovatif yang dapat mengatasi kelaparan di negaranya dan di salah satu negara termiskin di dunia. Berpijak pada peristiwa itu, ternyata remaja-remaja di seluruh dunia sudah dituntut untuk dapat berpikir ilmu disiplin demografi melalui proses analisis kependudukan. Bukankah suatu hal yang luar biasa?
Menurut data statistik kependudukan, sejak 1971 grafik kependudukan Indonesia tampak stabil dengan rasio kelahiran dan kematian pada tingkat yang tinggi, reproduksi tak terkendali, dan kematian bervariasi tiap tahunnya. Angka beban tanggungan sebesar 87 yang artinya tiap 100 orang usia produktif akan menanggung 87 orang usia non produktif. Hal itu merupakan fakta bahwa penduduk Indonesia sebagian besar berada pada kelompok usia muda. Lalu timbul pertanyaan “Seberapa besar peran remaja dalam pembagunan nasional? Mengapa 17,8% dari 238 juta penduduk kita masih berada dalam garis kemiskinan padahal Indonesia memiliki 17,3 juta orang sebagai angkatan kerja dewasa?”
Hadirin sebangsa dan setanah air, remaja Indonesia sebagai pelopor peningkatan Indeks Pembangunan Manusia akan terus bertambah 2% tiap tahun. Apabila grafik fertilitas melonjak, namun tidak diimbangi dengan swadaya yang memadahi untuk remaja berkarya, maka tak heran, fakta yang terjadi saat ini, angka pengangguran membengkak menjadi 20,7%. Permasalahan tersebut merupakan hal yang wajar dalam proses Era Bonus Demografi. Namun, bila diacuhkan, maka perkara kecil itu mampu merusak agenda pembangunan Indonesia. Puncak Era Bonus Demografi pada tahun 2030 nanti, era yang sulit bagi Indonesia mempertahankan diri dari globalisasi. Maka, remaja menjadi salah satu sumber sasaran. Lingkungan, keterampilan, dan wawasan merupakan point penting yang harus dikaji untuk mencegah prospek Bonus Demografi tak ternodai.
Sahabat muda 2018, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia kini berada pada peringkat 113 dari 182 negara di dunia. Saat digadang sebagai negara berkembang, kita justru turun ke arah terbelakang. Masalah kecil muncul merusak harga diri negeri, seperti tawuran, narkotika, kekerasan, pergaulan, dan putus sekolah pun menjadi-jadi. Kini remaja lebih banyak terdorong menjadi provokator daripada motivator.
Indonesia harus benar-benar mandiri. Kita harus bisa seperti Norwegia sebagai IPM tertinggi. Seperti Australia yang memiliki good healthy life expectancy. Remaja harapan bangsa, lalu apa yang dapat kita kerjakan? Jadilah sumber daya manusia yang hebat, terus bangkit dari kenyataan hidup pahit. Tanamkan dalam diri, pemuda tidak dididik untuk jadi koruptor yang menyebabkan PNB melemah. Semangat 45.
 “Mulai” adalah kata yang penuh kekuatan. Cara terbaik menyelesaikan sesuatu adalah “mulai”. Tapi pekerjaan apa yang dapat terselesaikan bila kita hanya memulainya? Mari bergerak dari sekarang, menuju Indonesia gemilang. Haruskah pemuda membaca air mata Indonesia pada era Bonus Demografi?
Salam Indonesia gemilang.
Saya Indonesia. Saya Pancasila. Merdeka.
Wasalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar